perbedaan orang tua bijak dan biasa

Orang Tua Bijak dan Tidak

Hampir setiap orang pernah merasakan peran anak dalam keluarga. Demikian juga menjadi orang tua, namun pada saat beralih peran menjadi orang tua dalam keluarga, tidak semuanya menjadi orang tua yang bijak, beberapa menjadi biasa saja. Bagaimana ciri orang tua yang bijak?

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Setiap anak memiliki keunikan masing – masing. Seperti semua orang tahu bahwa ikan tidak bisa diadu / dibandingkan ketika memanjat pohon dengan monyet. Namun beberapa orang tua senang sekali membandingkan anaknya dengan anak tetangganya atau temannya. “Tuh lihat anak teman mama juara 1 lomba menggambar” “Itu si Nico pintar sekali matematikanya” dan seterusnya. Sebagai orang tua seharusnya tidak menggunakan keunggulan anak lain untuk “memotivas” anaknya, karena anak justru akan minder dan mungkin berpikir “wah iya aku nggak jago menggambar” “aku bodoh matematika” dst. Sebagai orang tua layaknya membantu mencari keunggulan anak, Tidak masalah anak saya tidak jago menggambar, dia jago menyanyi. Tidak masalah anak saya tidak jago matematika, dia presenter yang baik. Bantu untuk mencari keunikan tiap anak, bukan membanding – bandingkan dengan orang lain.

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Setiap anak pasti pernah melakukan kesalahan. Jika tidak pernah, berarti tidak pernah melakukan apa – apa. Tapi apa reaksi orang tua biasa ketika anaknya melakukan kesalahan? Mereka menghukum habis. “Kamu tidak boleh menggambar lagi! Lihat itu tembok kotor semua! Sana masuk kamar” Lebih baik anak diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap kesalahan yang dibuatnya. Contohnya anak sudah diajarkan tidak boleh menggambar di dinding kamarnya, anak diajak bersama – sama membersihkan tembok. “Ayo bersama – sama membersihkan temboknya” Sehingga anak kelak dapat sadar, tidak perlu takut untuk melakukan apapun, tapi yang harus diketahui bahwa ada konsekuensi pada tiap tingkah laku. Jangan sampai anak berpikir kecil dan menjadi penakut karena “Jangan macam – macamlah, takut dimarahi orang tua.” “Nanti dihukum bapak” “Nanti Ibu marah”

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Beberapa mahasiswa ketika ditanya mengapa mengambil jurusan tertentu jawabannya cukup menyedihkan: “Disuru orang tua” “Membahagia kan orang tua” “Orang tua pingin punya anak dokter”. Boleh – boleh saja sebagai orang tua memberikan pendapat dan pengalamannya sebagai bahan acuan anak untuk memilih langkah kedepan. Tapi orang tua yang bijak mengerti bahwa tugas mereka hanyalah mempersiapkan anaknya, bukan sebagai dalang pada pawayangan yang mengatur seluruh hidup anaknya. “Jadi pemusik? Pokoknya jika kamu nggak mau masuk dokter, jangan pulang ke rumah bapak lagi” Setiap manusia memiliki mimpi nya masing – masing, tidak selalu sama dengan orang tua, dan orang tua yang bijak tahu anaknya akan menjalani hidupnya sendiri kelak, sehingga mereka akan dibantu untuk mencari dan menemukan mimpinya.

 

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Dalam keluarga, orang tua akan mengatur nilai – nilai apa yang akan ditanamkan pada anaknya. Beberapa hanya memberikan perkataan “Jangan pulang malam” “Jangan Merokok” “Jangan minum alkohol”, tetapi ketika ditanya lho kenapa kok ayah merokok? Sudah kamu jangan banyak tanya, ayah sudah terlanjur, kamu kalau belum jangan coba. Dan hasilnya kebanyakan anak tidak menuruti apa yang didengarnya, tapi mereka lebih meniru perbuatan orang tuanya. Orang tua yang setiap hari berkata kotor di rumah berharap anaknya tidak mengikutinya? Hampir tidak mungkin, anak – anak paling baik belajar dengan mencontoh orang disekitarnya. Jika ingin menjadi orang tua yang baik, jadilah contoh yang baik bagi anak – anak. Bukan lewat peraturan / larangan, tapi lewat tindakan.

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Anak selalu diajarkan untuk menjadi anak yang baik. Tapi adakah orang tua yang belajar untuk menjadi orang tua yang baik? Sebagaian orang tua pasti berpikir “Buat apa belajar, dari pengalaman saja”. Padahal belajar untuk menjadi orang tua yang baik sama seperti orang belajar memasak dan lainnya. Harus dipelajari. Jika dilihat lebih ekstrim, pelatih anjing saja harus belajar bagaimana teknik mengajarkan anjing sehingga menjadi anjing yang baik dan terlatih, mengapa orang tua harus biasa – biasa saja? Tidak mau menambah kemampuan untuk mengajar dengan lebih baik lagi. Apalagi setiap anak berbeda – beda, mengajar ke anak yang autis, pendiam dan lain – lain butuh pendekatan yang berbeda. Orang tua yang bijak akan selalu melatih diri sehingga anaknya dapat ditangani dengan cara yang paling tepat.

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Sudah merupakan natur sebagai orang tua untuk melindungi anaknya. Tapi melindungi anaknya bukan berarti membantu setiap anaknya pada kesulitan kekecil apapun. Sering terlihat bagaimana anak SMA / mahasiswa ketika orientasi, orang tua sering marah ke guru / panitia, takut anaknya terlalu capek, sakit, terluka dan sebagainya. Baik bagi orang tua untuk memperhatikan anaknya, tapi hal seperti itu membuat anak tidak mandiri. Anak harus diberi kesempatan untuk mengeksplor dunianya sendiri, mencoba hal baru sendiri, lepas dari bantuan orang tua. Ketika anak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, orang tua seperti mengajarkan memancing ke anaknya, ia akan senantiasa dapat menyelesaikan masalah – masalah berikutnya.

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Dalam keluarga orang tua biasanya jauh lebih berpengalaman dari anaknya. Namun hal tersebut bukan berarti membuat orang tua berperan sebagai bos. Anak tidak boleh berpendapat, mengajukan ide dan lainnya. “Pokoknya turuti ayah” “Kamu kurang ajar ya menentang orang tua”. Orang tua juga manusia, tidak ada orang tua yang sempurna. Sebagai anak yang baik, sudah sepatutnya memberikan masukan ketika orang tua berbuat kesalahan (asal dengan cara yang sopan dan baik). Namun jika kondisi keluarga menempatkan anak sebagai bawahan, anak akan merasa tidak berarti di keluarga, sehingga memungkinkan untuk malas berkontribusi dalam keluarga. “Turuti perintah orang tua saja lah”

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Perbedaan orang tua bijak dan tidak

Banyak orang tua yang beranggapan ya harusnya sekolah dong yang ngajari. “Sudah bayar mahal – malah, diajari apa disekolah. Saya ini sibuk, nggak sempat mengajari anak.” Pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama. Tidak bisa diserahkan kepada sekolah sepenuhnya, guru dan orang tua harus bersama – sama mendidik anak. Baik pendidikan akademis, karakter dan lainnya. Orang tua yang bijak akan selalu turut serta menjadi “guru” dalam setiap perjalanan anak.

Referensi:

Lifehack

Comments

comments