Pengusaha dan Karyawan

Apa perbedaan seorang pengusaha dan karyawan? Jika anda menjawab pengusaha memiliki usaha sendiri, mungkin anda kurang tepat. Anda perlu tahu: penjadi pengusaha tidak harus anda memiliki usaha sendiri, anda bisa menjadi akuntan di sebuah akuntan publik namun anda bisa disebut seorang pengusaha.

Perbedaan terbesar pengusaha dan karyawan adalah pada pola pikirnya. Jadi apa perbedaannya:

1. Pengusaha mengasah kekuatannya, karyawan mengasah kelemahannyaMengasah-Kemampuan-Kelemahan

Jika anda pernah mendatangi interview kerja, mungkin anda pernah mendengar pertanyaan berikut ini: “Apa yang anda lakukan untuk memperbaiki/memperkuat kelemahan anda?”. Hal ini merupakan pertanyaan yang masuk akal, terutama bagi karyawan. Banyak karyawan berpikir bahwa kelemahan ada buruk dan mereka harus memperbaiki hal tersebut.

Tapi bukan para pengusaha.

Pengusaha tidak berfokus untuk mengasah kelemahannya. Mereka mengerti apa kekuatannya, dan berfokus untuk terus mempertajam supaya kekuatannya semakin kuat, dan mencari rekan / karyawan yang jauh lebih baik di bidang kelemahannya.

2. Pengusaha menghasilkan produk yang tidak sempurna, karyawan perfeksionis

perfeksionis

Karyawan, hampir selalu berada dalam pengawasan bos, mengejar untuk bekerja sebaik mungkin dan menjadi perfeksionis. Namun kebanyakan berkerja untuk mendapatkan penilaian yang bagus dari bos.

Pengusaha di lain tempat, mengerjakan banyak hal yang tidak sempurna. Jangan salah, hal ini bukan berarti pengusaha mengirimkan produk yang tidak sempurna / jelek ke konsumen. Lebih baik bekerja dan gagal, memperbaiki lagi, bekerja, gagal, memperbaiki daripada tidak bekerja sama sekali karena menunggu semuanya sempurna.

3. Pengusaha berkata tidak pada kesempatan, karyawan selalu berkata ya

yes man

Investor terkemuka dan salah satu orang terkaya di dunia Warren Buffet mengatakan “Perbedaan orang sukses dan orang yang sangat sukses adalah orang yang sangat sukses berkata tidak ke hampir semua hal”

Pengusaha sering berkata tidak untuk menjaga fokus mereka. Mereka selalu berfokus pada tujuannya, tidak mudah diganggu dengan ide-ide lain yang mungkin dapat mengalihkan perhatian dari ide utamanya. Karyawan di lain tempat, takut jika berkata tidak mereka akan kehilangan kesempatan besar dan tidak dapat bekerja lagi.

4. Pengusaha mendelegasikan, karyawaan mengerjakan semuanya sendiri

multi-tasking

Pengusaha selalu mencari cara untuk memindahkan perkerjaan dari tangan mereka. Mereka sangat menghargai waktunya, dan benar – benar berfokus untuk melakukan pekerjaan yang hanya mereka yang bisa melakukannya. Mereka ingin setiap pekerjaan dikerjakan oleh spesialis yang terbaik di bidangnya. Steve Jobs, tidak akan bisa membangun apple sebesar ini jika ia melakukan pemrograman, merakit komputer, menjual, mengecek absensi pegawai dan semua halnya sendiri. Ia hanya berfokus pada hal – hal terpenting, dan mendelegasikan lainnya.

Karyawan memiliki pemikiran yang berlawanan. Mereka mencoba melakukan semuanya sendiri, dan menganggap tidak bisa melakukan semuanya sebagai kelemahan. Mereka mencoba mengetahui setiap aspek sampai dalam. Kata – kata favoritnya adalah “jika kamu mau semuanya bekerja dengan baik, kerjakanlah sendiri”, itulah kalimat favorit karyawan.

5. Pengusaha mono-tasking, karyawan (mencoba untuk) multi-tasking

delegasi

Banyak sekali penelitian yang berusaha mempelajari multitasking. Hasilnya tidak begitu mengejutkan, tidak mungkin untuk otak kita dapat fokus secara efektif, untuk mengerjakan hal – hal lebih dari satu disaat yang sama.

Orang yang dapat mengemudi dengan baik sambil mencium gadis cantik, tidak memberikan perhatian yang layak saat mencium gadis tersebut – Albert Einstein

Pengusaha menyadari bahwa multitasking tidak begitu baik, sehingga mereka berfokus pada satu hal besar.

Dilain tempat karyawan berusaha untuk multitasking, karena mereka percaya dengan melakukan banyak hal bersamaan adalah hal yang baik.

6. Pengusaha menyukai resiko, karyawan menghindarinya

mengambil-resiko

Jika anda bertanya pada orang yang berpikiran karyawan mengapa mereka tidak memulai usaha sendiri, mereka akan menjawab banyak sekali seperti: bagaimana dengan keamanan? bagaimana kalau gagal? bagaimana dan pensiun? bagaimana jaminan kesehatan dan lain – lain. Banyak sekali resiko yang harus dihadapi ketika memulai usaha, terlalu beresiko.

Sebaliknya pengusaha menyukai resiko. Tidak adanya resiko, berarti tidak ada hadiah, lebih menakutkan para pengusaha.

Ketika anda melihat suatu bisnis yang sukses, seseorang telah melakukan keputusan yang sangat berani – Peter Drucker

7. Pengusaha mempercayai musim, karyawan percaya keseimbangan

keseimbangan

Enaknyaaa, keseimbangan kerja dan hidup. Pagi – sore bekerja, malam berjalan – jalan / bersantai bersama keluarga. Mungkin itu mimpi setiap karyawan di dunia ini.

Pengusaha tidak berpikir keseimbangan tersebut dapat tercapai. Daripada mencari keseimbangan, mereka lebih percaya untuk berprestasi di suatu hal, harus ada yang berkorban. Mereka percaya area dalam hidupnya akan berganti seperti musim. Mereka mau mengorbankan kesenangan / liburan / waktu berjalan – jalan untuk mementingkan usahanya. Dan suatu hari usahanya dapat memberikan dampak yang besar walaupun mereka sudah tak bekerja lagi.

8. Karyawan merasa terancam oleh orang yang pintar, pengusaha memperkerjakan mereka

orang-pintar

Didalam hituan perusahaan, jika anda bukan yang bekerja paling keras, paling punya banyak koneksi, paling pintar, mungkin anda tidak bisa mendaki jenjang karir dengan cepat. Ketika ada orang lain yang lebih pintar dari anda, anda akan merasa dia adalah kompetitor anda dalam mendaki puncak karir. Anda bisa jadi merasa tidak senang dengan itu

Lain halnya dengan pengusaha. Ketika mereka bertemu dengan orang yang pintar, mereka malah senang, karena mereka dapat memperkerjakan orang tersebut. Tanpa orang hebat didalamnya, suatu bisnis tidak akan bisa berkembang. Semakin banyak anda bertemu dengan orang pintar, anda akan semakin senang karena anda bisa membangun tim yang semakin kuat.

Anda tidak harus keluar pekerjaan anda yang sekarang untuk menjadi pengusaha, namun yang terpenting adalah membangun pola pikir yang benar seperti layaknya pengusaha. Dan kabar baiknya adalah, banyak sekali cara yang dapat anda lakukan untuk menjadi pengusaha yang sukses, baik dalam karir anda saat ini ataupun saat membangun usaha anda sendiri.

 

Comments

comments