Perbedaan Pantun dan Syair

Pantun dan Syair

Dalam dunia sastra, ada teori sastra dan juga karya sastra. Teori sastra membahas mengenai materi dalam sastra sedangkan karya sastra adalah wujud dari sastra itu sendiri. Karya sastra dibagi menjadi dua yaitu karya sastra klasik dan kontemporer. Dua dari beragam jenis karya sastra klasik Indonesia adalah pantun dan syair. Baik pantun maupun syair sarat akan tujuan sesuai dengan maksud pembuatan masing-masing karya sastra tersebut. Pantun dan syair termasuk dalam kategori karya sastra puisi lama yang sama-sama terdiri dari empat baris dan masing-masing baris terdiri dari8-12 suku kata. Sedangkan perbedaan keduanya adalah sebagai berikut:

PantunSyair
Tujuan atau makna yang ingin dicapaiJenaka, sindiran, nasihatNasihat
Kesan yang dihasilkanHumor, sadar tetapi masih santaiSerius
AsalMelayuArab persia
Sajak akhira-b-a-b, a-a-a-aa-a-a-a
Fungsi baris2 baris pertama sampiran, dua baris kedua isisemua baris adalah isi
Keterkaitan makna pada masing-masing barisBaris pertama berhubungan dengan baris kedua, baris kedua berhubungan dengan baris keempatsemua baris saling berhubungan
bahasabisa dikombinasikanbahasa sama

Tujuan atau Makna yang Ingin disampaikan

Pantun dan syair adalah kedua jenis puisi lama yang memiliki tujuan masing-masing. Tujuan yang dimiliki oleh pantun belum tentu dimiliki oleh syair sedangkan tujuan yang dimiliki oleh syair masuk dalam makna yang terkandung dalam pantun.

Baiklah, kita bedakan terlebih dahulu apa itu tujuan dan makna pantun. Tujuan pembuatan pantun pada zaman dahulu adalah untuk mengisi waktu luang saat sedang berkumpul bersama teman atau kerabat. Dari situ salah seorang mulai melontarkan pantun dengan tujuan bersenda gurau sehingga suasana terasa lebih hangat. Tidak jarang, pantun jenaka seperti ini dibalas oleh yang mendengarkan sehingga terjadilah berbalas pantun. Pantun jenaka dalam tradisi lisan lebih sering diperdengarkan dalam situasi informal.

Selain itu, pantun juga bertujuan untuk menyindir. Menyindir disini bisa dalam konteks hubungan pihak inferior yang teraniaya dengan pihak superior yang semena-mena, bisa juga dalam konteks hubungan suami istri atau sepasang kekasih atau konteks hubungan berpasangan lain dimana salah satu pihak berlaku tidak adil terhadap yang lain. Muncullah pantun sindiran untuk mengutarakan perasaan atas ketidakadilan tersebut dalam bentuk pantun dengan isi yang tajam dan mengena.

Pantun juga syarat akan nasihat. Nasihat yang dimaksud disini adalah petuah dalam menjalani kehidupan, cara berhubungan dengan manusia lain dan berhubungan dengan pencipta. Bisa dikata, pantun dengan tujuan menasehati adalah bagian dari referensi nilai moral dan etika bagi pembacanya.

Syair tidak memiliki tujuan atau makna sekaya pantun. Syair fokus pada satu tujuan yaitu menasihati atau mengingatkan atau mengajak untuk berkontemplasi. Syair lahir dari perenungan penyair yang dalam. Tidak semua orang memiliki kepekaan menciptakan syair yang mampu menguak hikmah dibalik segala peristiwa. Nasihat pada syair bisa berupa kesadaran diri dalam menangkap apa yang diinginkan alam dari kita, kenapa kita dihidupkan, kenapa moral semakin tidak terkontrol, kenapa bencana  bertubi-tubi terjadi, dan lain sebagainya.

Kesan yang dihasilkan

Setelah mengetahui masing-masing tujuan dan makna dari pantun dan juga syair tersebut, ketika kita membaca atau mendengar pantun jenaka maka kita akan segera tertawa kecil atau terbahak sendiri, dan jika dalam kelompok kita akan saling bersorak sorai. Jika membaca pantun berjenis satire maka respond kita adalah sadar bahwa yang dimaksud pantun itu adalah benar sambil mengatakan “Oh, iya ya! “ atau jika ditujukan pada seseorang tertentu yang kebetulan kita juga tidak menyukainya maka kita akan mengatakan “Nah, kena’ deh lho!” semacam rasa benci Anda telah diutarakan dan terwakili oleh pantun tersebut.

Meski pantun dan syair juga sama-sama bisa berisi nasihat, ketika membaca pantun dengan tujuan menasehati kita tidak akan seserius membaca syair. Alasannya adalah pada pantun tidak berisi ulasan serius keseluruhan karena 2 bait pertama berupa sampiran.

Asal muasal pantun dan syair

Dilihat dari asal muasalnya, kedua jenis puisi lama Indonesia ini berasal dari dua tempat yang cukup berbeda. Pantun berasal dari Melayu. Kata pantun berasal dari bahasa Minangkabau yaitu “patuntun” yang dalam bahasa Jawa disebut dengan “parikan” sedangkan dalam bahasa Sunda disebut dengan “Uppasa”. Sedangkan untuk syair berasal dari tradisi Arab Persia yang gemar membuat syair. Syair secara bahasa berasal dari kata dalam Bahasa Arab “syu’ur” yang berarti perasaan.

Sajak pada tiap akhir baris

Dilihat dari rima tiap akhir baris, sajak akhir pantun adalah a-b-a-b dan juga a-a-a-a sedangkan untuk sajak akhir syair adalah a-a-a-a

Fungsi baris

Pada pantun, dua baris pertama berupa sampiran sedangkan baris kedua berupa isi. Antara baris ke 1-2 dan ke 3-4 seringkali tidak memiliki koneksi sama sekali kecuali hanya untuk menggenapkan baris dan menyempurnakan rima sesuai dengan pakem pantun. Sedangkan untuk syair, sajak syair adalah a-a-a-a. Jika didengarkan, sajak akhir syair tidak seindah dan semenggelitik pantun.

Keterkaitan makna masing-masing baris

Pada pantun baris pertama berhubungan dengan baris kedua sebagai sampiran dan baris ketiga berhubungan dengan baris keempat sebagai isi dari pantun. Dalam sampiran pun, terkadang pencipta pantun menuliskan dua hal yang sama sekali berbeda. Beda halnya dengan syair yang mulai dari baris pertama hingga keempat adalah isi tanpa menggunakan sampiran yang berfungsi menyamakan rima tiap barisnya.

Bahasa yang digunakan

Pada pantun, penciptanya bisa menggabungkan atau menggunakan beberapa bahasa sekaligus dalam satu pantun utamanya untuk sampirannya asalkan berima a-b-a-b sedangkan untuk syair bahasa yang dipakai pada keempat barisnya adalah sama dan tidak bisa dikombinasikan dengan bahasa lain agar tidak mengganggu pemahaman pembaca.

Contoh pantun berima a-b-a-b dengan tujuan menasehati. Antara sampiran pada baris pertama dan kedua sangat berbeda maksudnya dengan isi dari pantun yang tujuannya mendidik.
“Pagi-pagi minum jamu
Rasanya segar dan bikin kuat
Berbuat baiklah pada gurumu
Ilmu berguna dan bermanfaat”

Sedangkan untuk pantun bersajak a-a-a-a

“Tiup seruling si anak gembala

berjalan pelan ekor bergoyang

ingat pulang hari tlah senja

takut ibu hatinya bimbang”

contoh syair penggalan karya Hamzah Fansuri dengan sajak a-a-a-a. Tiap barisnya bersinambungan dan berisi nasihat kehidupan.

Pergi sekolah jangan malas
Belajar rajin di ruang kelas
Jaga sikap jangan culas
Agar hati tiada keras

Referensi:

Comments

comments