Apa bedanya Konflik dan Kekerasan

Konflik dan Kekerasan

Banyak orang masih bingung antara konflik dan kekerasan. Tidak sedikit yang kesulitan untuk membedakan antara keduanya sehingga kekerasan selalu dianggap memiliki arti yang sama dengan konflik. Pada dasarnya konflik dalam hidup bermasyarakat adalah hal yang sangat alami. Namun yang menjadi masalah utama adalah apakah konflik tersebut berakibat pada kekerasan atau tidak

Kekerasan merupakan indikasi dari perwujudan sebuah konflik yang tidak atau belum ditangani dengan baik. Sementara itu konflik yang dapat ditangani dengan baik akan diselesaikan dengan cara yang damai. Kekerasan sosial cenderung lebih mengarah ke wujud nyata atau bentuk fisik dari suatu aksi yang dilakukan oleh  sekelompok massa atau sekelompok orang pada suatu tempat dan waktu tertentu. Sementara itu konflik sosial lebih mengarah ke permasalahan yang lebih mendasar dari kemunculan suatu tindakan kekerasan sosial. Berikut ini adalah perbedaan antara konflik dan kekerasan secara umum

KonflikKekerasan
ProsesTerjadinya konflik diketahui oleh pihak-pihak yang bertikaiProses terjadinya kadang tidak diketahui oleh salah satu pihak atau pihak yang lemah
EfekAktivitas yang dilakukan tidak menyebabkan reaksi yang berartiAktivitas yang dilakukan dapat menimbulkan reaksi yang keras dan bahkan terjadi benturan fisik yang menyebabkan cidera
PenyebabDapat berupa motivasi untuk meraih suatu prestasiKesalahpahaman antara kedua belah pihak
HukumBukan termasuk pelanggaran hukumTermasuk bentuk pelanggaran hukum
PenyelesaianCara penyelesaian dapat dilakukan melalui peradilan dan akomodasiCara penyelesaian hanya dapat dilakukan melalui jalur hokum peradilan
Jangka WaktuTerjadi dalam kurun waktu yang panjangTerjadi dalam waktu yang cukup singkat

Pengertian

Konflik dan kekerasan sebenarnya memiliki pengertian yang sangat berbeda. Konflik merupakan suatu proses sosial antara 2 orang atau suatu kelompok di mana salah satu pihak ingin menyingkirkan pihak lawan dengan membuatnya tidak berdaya atau bahkan menghancurkannya. Konflik terjadi hampir di seluruh lapisan masyarakat seperti konflik yang terjadi antar anggota atau kelompok masyarakat. Suatu konflik yang terjadi biasanya akan hilang seiring dengan hilangnya masyarakat itu. Sementara itu kekerasan diartikan sebagai sebuah ekspresi yang dilakukan secara verbal maupun fisik yang mencerminkan tindakan menyerang terhadap kebebasan maupun martabat seseorang yang dilakukan oleh suatu kelompok atau perorangan. Dengan kata lain, kekerasan merupakan konflik yang sudah diwujudkan dalam bentuk fisik.

Konflik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan perselisihan, percekcokan, dan pertentangan. Konflik sosial merupakan pertentangan antar anggota masyarakat dan bersifat menyeluruh dalam kehidupan. Pada dasarnya konflik tidak hanya bersifat lahiriah tetapi juga dapat terjadi di dalam batin yakni konflik batin. Konflik batin merupakan konflik yang disebabkan oleh dua gagasan atau lebih yang saling bertentangan untuk menguasai diri sehingga berpengaruh terhadap tingkah laku. Seseorang dapat berkonflik dengan diri sendiri misalnya mengalami konflik batin. Sementara itu kekerasan selalu melibatkan lebih dari satu pihak yang mengalami konflik

Penyebab

Konflik dilatarbelakangi oleh berbagai alasan tetapi bukan dilandasi oleh tindakan sewenang-wenang. Setiap manusia merupakan pribadi yang unik. Setiap orang mempunyai perasaan dan pendirian masing-masing yang belum tentu saja. Perbedaan perasaan dan pendirian terhadap suatu hal atau lingkungan itulah yang dapat menjadi faktor penyebab terjadinya konflik. Pasalnya, dalam menjalani hubungan sosial, kadang-kadang seseorang tidak selalu sepaham dengan kelompoknya. Sebagai contoh saat berlangsung konser musik dangdut, setiap warga tentu memiliki perasaan yang berbeda. Ada yang merasa terhibur dan ada yang merasa terganggu karena suara berisik. Hal ini tentu sudah dianggap sebagai konflik. Sementara itu kekerasan sudah melibatkan unsur kesewenang-wenangan yang tidak terkontrol di mana salah satu pihak sudah tidak mampu lagi menghadapi konflik tersebut di dalam dirinya. Mahatma Gandhi beranggapan bahwa akar kekerasan adalah kesenangan tanpa hati, kekayaan tanpa bekerja, pengetahuan tanpa karakter, ilmu tanpa kemanusiaan, perdagangan tanpa moral, dan politik tanpa prinsip.

Jangka Waktu Penyelesaian

Konflik biasanya merupakan sebuah fakta sosial. Oleh sebab itu konflik tidak dapat dihindari oleh salah satu pihak yang berkonflik dan konflik akan terjadi secara berkelanjutan sebelum mendapat penyelesaian. Sementara itu kekerasan bersifat relatif. Aksi kekerasan bisa terjadi berdasarkan kemampuan dan kekuatan pelaku kekerasan itu sendiri. Jadi akibat dari kekerasn mempunyai tingkatan yang berbeda sesuai apa yang bisa dilakukan oleh pelaku kekerasan. Jika emosi pelaku dapat dijaga, maka kekerasan yang terjadi masih dapat dihindari. Namun kebanyakan aksi kekerasan disebabkan karena emosi yang sudah tidak terkendali lagi sehingga dilampiaskan pada pihak lawan

Konflik Memiliki Tujuan Lebih Kompleks

Sebuah konflik pada umumnya mempunyai tujuan yang lebih kompleks. Tujuan akhir dari konflik cenderung untuk meraih kemenangan. Karena itu jika ada dua pihak yang bersangkutan tidak mencoba berdamai dan mengalah, maka konflik tidak akan selesai. Jika konflik mempunyai tujuan yang jelas, kekerasan tidak mempunyai tujuan yang jelas, Biasanya kekerasan merupakan hasil pelampiasan emosi yang meluap pada seseorang. Pada seseorang yang melakukan kekerasan, biasanya akan muncul rasa penyesalan setelah melakukan hal itu, Berbeda dengan konflik, pelakunya cenderung terus berambisi menang tanpa memikirkan rasa penyesalan serta akibat yang mungkin ditimbulkan

Dampak yang Dihasilkan

Walaupun merupakan hal negatif, konflik dapat memberikan dampak yang positif. Dampak tersebut di antaranya adalah perubahan ke arah yang lebih baik setelah konflik usai. Hal ini berbeda dengan kekerasan yang biasanya menimbulkan dampak negatif seperti kerusakan atau bekas luka yang mungkin dapat bertahan seumur hidup

Teori yang Berbeda

Teori konflik memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi karena proses penyesuaian nilai-nilai tetapi karena terjadinya konflik. Teori tersebut berdasarkan pada kepemilikan sarana-sarana produksi sebagai unsur yang memisahkan kelas di dalam masyarakat. Teori ini muncul sebagai reaksi atas kemunculan teori struktural fungsional. Pada intinya konflik dapat berupa proses yang bersifat instrumental untuk penyatuan, pembentukan, dan pemeliharaan struktur sosial. Adanya konflik masih mampu menempatkan dan menjaga batas antara 2 kelompok atau lebih. Selain itu konflik dengan kelompok lain juga dapat semakin memperkuat identitas kelompok dan melindunginya supaya tidak melebur dengan dunia sosial di sekelilingnya

Sementara itu Teori Kekerasan memilki pandangan yang cukup berbeda dengan Teori Konflik. Istilah kekerasan sebenarnya diambil dari bahasa Latin yaitu violentia yang artinya keganasan, kegarangan, penganiayaan, kedahsyatan, dan kebengisan. Tindakan kekerasan lebih mengarah pada tindakan yang menyebabkan kerugian pada orang lain. Kekerasan diartikan sebagai perilaku yang dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja baik verbal maupun non verbal yang bertujuan untuk melukai atau merusak orang lain baik melalui serangan fisik atau non fisik.

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_konflik

Comments

comments