Perbedaan Ahok Djarot dan Anies Uno

Ahok-Djarot dan Anies-Uno

Gemuruh pemilu DKI semakin dekat. Segenap mata mulai tertuju pada pemilihan ini, sebuah panggung demokrasi bagi seluruh warga, tak terkecuali warga non DKI. Hal itu tidak mengherankan karena ini merupakan pilkada untuk wilayah ibukota. Pemimpin yang berhasil merubah Jakarta, tentu saja akan menjadi kandidat potensial untuk memimpin Indonesia itu sendiri.

Alhasil, setiap partai politik pun mulai menyusun strategi yang tepat. Tidak boleh salah pilih karena sangat mempengaruhi reputasi partai. Jagoan mereka harus kuat, berkharisma dan tentu, mampu menarik simpati rakyat untuk memilih mereka. Menarik sekali, tidak ada satupun yang berangkat dari kader partai. Hal ini membuat banyak orang pun semakin bersemangat. Mungkin pilkada kali ini akan jauh lebih menarik dan kompetitif daripada sebelum-sebelumnya!

Jagoan pertama datang dari koalisi PDIP, Golkar, NasDem dan Hanura yaitu pasangan incumbent saat ini. Setelah mengalami drama yang sangat panjang, akhirnya PDIP setuju mengusung Ahok untuk berpasangan dengan Djarot. Lalu disusul dengan deklarasi oleh partai Demokrat dengan PAN, PPP, dan PKB yang membawa sang pangeran Cikeas yaitu Agus -Sylviana Murni. Sedangkan Gerinda dan PKS justru mengejutkan publik dengan menjadikan mantan menteri pendidikan Anies Baswedan berpasangan dengan Sandiaga Uno yang sebenarnya digadang-gadang menjadi calon gubernur dan bukan menjadi wakil gubernur.

Menurut hasil survey, pasangan Anies-Sandiaga diprediksi menjadi pesaing terberat Ahok-Djarot. Ahok berhasil meraih 37.95 persen suara dari 400 responden yang berpartisipasi pada survey yang diadakan oleh Poll-tracking Indonesia. Selain itu, survey tersebut juga menunjukkan bahwa Anies-Sandiaga meraup suara yang hampir mirip yaitu sebesar 36.38%. Walaupun Agus-Sylviana pun masih memiliki potensi sebagai kuda hitam namun dalam kesempatan ini, penulis akan berfokus pada pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga.

  1. Latar Belakang Politik

Calon Pertama (Ahok-Djarot):

Basuki Tjahja Purnama atau lebih dikenal dengan sebutan Ahok, mengawali karirnya sebagai pengusaha sebelum akhirnya memutuskan untuk terjun sebagai politikus pada tahun 2004 sebagai anggota DPRD Belitung. Setelah itu, Ahok mencalonkan diri dan terpilih menjadi Bupati Belitung Timur di tahun berikutnya. Sempat mencalonkan diri sebagai gubernur Bangka Belitung di tahun 2007 namun kalah dengan Eko Maulana Ali. Saat ini, Ahok menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo yang akhirnya menjadi Presiden RI.

Berbeda dari Ahok, Djarot Saiful Hidayat yang merupakan wakil gubernur Ahok mengawali karirnya sebagai seorang dosen sebelum memutuskan untuk terjun di dunia politik. Karirnya sebagai politikus sendiri diawali dari anggota DPRD di tahun 1999 sebelum akhirnya menjadi walikota Blitar dan akhirnya melenggang ke ibukota.

 

Calon Kedua (Anies-Sandiaga):

Anies Baswedan merupakan sosok yang justru lebih dikenal di dunia akademisi sebelum akhirnya diusung oleh partai Gerindra dan PKS. Kariernya di politik boleh dibilang masih baru dimana Anies menjadi jubir dari tim sukses Jokowi-JK dan akhirnya diangkat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Sayang sekali, pada reshuffle kemarin, nama Anies Baswedan termasuk salah satu nama yang harus digantikan. Meskipun memiliki pengalaman yang minim, Demokrat dan PKS sepakat untuk mengusungnya sebagai calon gubernur DKI Jakarta

Sandiaga Uno sendiri merupakan sosok yang lebih dikenal sebagai pengusaha sukses dan salah satu orang terkaya di Indonesia. Karir politiknya sendiri terbilang baru dimana bursa pilkada DKI 2017 inilah upaya pertama Sandiaga berkecimpung dalam dunia politik.

 

 

  1. Prestasi/Kinerja
  2. Basuki Tjahja Purnama
  • Meraih penghargaan sebagai tokoh anti korupsi dari Gerakan Tiga Pilar Kemitraan tahun 2007
  • Peraih penghargaan dari majalah Globe Asia sebagai gubernur terbaik se-Asia
  • Penataan kota Jakarta melalui penggusuran perkampungan ilegal dan pembangunan rusun bagi warga yang digusur, pembersihan kali di Jakarta dan penerapan transparansi laporan keuangan
  1. Djarot Saiful Hidayat
  • Berhasil menata kota Blitar khususnya dengan memberdayakan pedagang kaki lima (PKL)
  • Penghargaan komite pemantauan pelaksanaan otonomi daerah pada tahun 2008
  • Penghargaan terbaik citizen’s charter bidang kesehatan, anugerah Adipura (2006-2008)
  1. Anies Baswedan
  • Penggagas Indonesia Mengajar, sebuah gerakan non profit yang berfokus pada pengembangan pendidikan di Indonesia
  • Rektor termuda Indonesia
  • Termasuk salah satu dari 100 tokoh intelektual publik dunia pada tahun 2008
  1. Sandiaga Uno
  • Peraih Summa Cumlaude di Wichita State University dan IPK 4.00 di George Washington University
  • Merupakan salah satu pengusaha yang masuk 40 besar terkaya di Indonesia versi 2009 versi majalah Forbes

 

  1. Gaya Kepemimpinan

Calon Pertama (Ahok-Djarot):

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu yang membuat Ahok disukai (dan dibenci) adalah gaya kepemimpinannya yang cenderung tegas dan tanpa pandang bulu dalam memberantas mafia-mafia birokrasi. Berbeda dengan wakilnya yaitu Djarot yang cenderung lebih kalem namun tidak segan untuk blusukan. Hal ini terlihat dari pengalamannya menjadi walikota Blitar. Pada kesempatan pilkada inilah, rakyat akan menguji apakah pasangan ini dapat saling melengkapi khususnya dalam kepemimpinan.

 

Calon Kedua (Anies-Sandiaga):

Di sisi lain, kedua calon ini belumlah memiliki track record yang cukup lama di dunia politik namun berkebalikan dari Ahok yang cenderung apa adanya, Anies Baswedan lebih dikenal sebagai sosok yang santun dan berkharisma. Tak jauh berbeda dengan Anies, Sandiaga pun juga lebih dikenal sebagai sosok yang memiliki kharisma yang terbentuk dari pengalamannya sebagai pengusaha. Meskipun mereka berdua memiliki gaya yang mirip, mereka berdua belum teruji pengalamannya menjadi seorang pemimpin politik.

 

  1. Program yang ditawarkan

Calon Pertama (Ahok-Djarot):

  1. Ahok dan Djarot akhirnya merilis program kerja mereka melalui website ahok.org pada tanggal 4 Oktober kemarin dimana melalui pernyataan visi misi mereka sebanyak 22 halaman, fokus program yang ditawarkan meliputi reformasi birokrasi, kesejahteraan hidup warga Jakarta, penataan kota dan hingga pembangunan berbasis teknologi.

 

  1. Pasangan ini juga berjanji untuk memberikan solusi terkait tempat tinggal (khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan minim) dengan menyediakan rumah susun sewa bersubsidi dengan 4 kategori kebijakan

 

 

Calon Kedua (Anies-Sandiaga):

  1. Di pihak Anies-Sandiaga sendiri sudah memaparkan bahwa fokus program mereka ke depan adalah pembangunan SDM dan pembangunan infrastruktur. Hal itu tidak mengherankan karena Anies merupakan sosok yang memiliki perhatian pada sektor pendidikan. Sedangkan Sandiaga sendiri memberikan janji untuk menciptakan lapangan kerja yang baru. Menurut Anies, kalau pengelolaan Jakarta, bukan hanya sekedar mengelola kota tapi juga mengelola manusianya.

 

  1. Pasangan ini berjanji melalui kontrak politik yang sudah dilakukan dengan warga Tanah Merah yaitu mereka berkomitmen untuk menyelesaikan sengketa tersebut dengan komunikasi dan dialog (bukan dengan penggusuran) namun belum merinci langkah apa yang akan dilakukan.

 

 

  1. Kelebihan dan Kekurangan

Dari aspek-aspek yang diuji, dapat dilihat bahwa masing-masing calon memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Menariknya, kedua calon pasangan ini sebenarnya memiliki background yang hampir mirip yaitu pengusaha (Ahok-Sandiaga) dan akademisi (Anies-Djarot). Hanya saja, pasangan Ahok-Djarot terlebih dahulu berkecimpung di dunia politik sebelum pasangan lainnya mengajukan diri. Di sisi lain, kharisma dan prestasi Anies Baswedan tentu saja tidak dapat dianggap remeh. Sebagai seorang akademis yang memiliki latar belakang yang baik tentu mampu menarik simpatisan untuk mempercayakannya memangku jabatan tertinggi ini.

 

Namun, kedua pasangan tersebut tetap memiliki kelemahan-kelemahan di aspek tertentu. Pasangan Ahok-Djarot dengan prestasinya membangun Jakarta, tetap memiliki kelemahan khususnya pada karakter Ahok yang cenderung otoriter sehingga beberapa orang pun menilai bahwa Ahok akan sulit dalam menerima saran dan kritik dari pihak lainnya. Di sisi lain, Anies pun dinilai tidak memberikan dampak yang mencolok ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Hal itulah yang menjadi penyebab akhirnya Anies pun tergusur dari posisinya.

 

  1. Psywar dan Fact-Checking

Calon pertama (Ahok-Djarot)

  1. Sungai bersih karena Foke, bukan Ahok

Pencetus: Anies Baswedan

Fakta Tersembunyi: Pernyataan Anies bukan secara menyatakan bahwa tidak ada peran Jokowi maupun Ahok dalam membuat sungai menjadi bersih. Hanya saja Anies ingin menguatkan pernyataannya terlebih dahulu yang berjanji akan menjalan program gubernur sebelumnya (Ahok).

Kondisi lapangan: Program memang dirancang oleh gubernur sebelum-sebelumnya namun dalam prakteknya, program tersebut kurang aktif/ digalakkan oleh penguasa sebelumnya.

 

  1. Trotoar banyak yang sudah rusak dan perlu diperbaiki

Pencetus: Sandiaga Uno, Agus Yudhoyono

Fakta tersembunyi: Isu terkait trotar itu muncul ketika adanya perbandingan antara kondisi trotoar Jakarta yang dinilai kalah dari kota Surabaya di bawah pimpinan Tri Rismaharini. Saat itu, Risma yang dijagokan menjadi salah satu calon kandidat penantang Ahok, memiliki keunggulan dalam penataan trotar dari PKL liar. Ahok sendiri saat itu menepis kritikan tersebut dengan mengatakan bahwa Jakarta dan Surabaya tidak bisa dibandingkan karena secara luas wilayah Surabaya di bawah Jakarta.

Kondisi lapangan: Kondisi trotoar Jakarta memang masih menjadi PR bagi pemerintah Jakarta, sama sesuai dengan pernyataan yang dilontarkan oleh kedua calon lainnya. Namun hal itu membutuhkan proses yang cukup panjang karena panjang trotoar Jakarta sekitar 2.700 km. Selain itu, jika dibandingkan dengan kota Surabaya yang secara luas memang lebih kecil daripada Jakarta dan membutuhkan 10 tahun bagi bu Risma untuk mencapai kondisi yang baik tersebut.

 

Calon kedua (Anies-Sandiaga)

  1. Anies menjilat ludah sendiri ketika diusung oleh dua partai yang menjadi lawannya ketika masih menjabat sebagai jubir tim sukses Jokowi-JK.

Pencetus: Netizen

Fun Fact: Sebenarnya pertama kali Anies menjilat ludah sendiri karena sebelumnya Anies yang sebelumnya maju dalam konvensi partai Demokrat pernah menyatakan bahwa tradisi blusukan Jokowi adalah upaya pencitraan. Lalu ketika dirinya gagal dalam konvensi, beliau berbalik arah dan menjadi juru bicara tim sukses Jokowi-JK. Ketika menjadi juru bicara Jokowi-JK, Anies menegaskan bahwa gaya Jokowi mudah diterima oleh rakyat karena dinilai lebih membumi

Kondisi lapangan: Praktik menjilat ludah sendiri sebenarnya bukanlah hal baru. Sama seperti Ahok yang pada mulanya memutuskan untuk maju lewat jalur independen bersama organisasi Teman Ahok, akhirnya memilih jalur parpol setelah dirinya mendapatkan dukungan dari 3 partai dan terakhir diusung bersama calon dari PDIP yaitu Djarot yang merupakan kader PDIP. Menariknya adalah, hal ini sebenarnya tetap konsisten dari keinginan Ahok di awal pencalonannya yang ingin tetap maju bersama Djarot sebagai wakilnya

 

  1. Sandiaga Uno diduga mengemplang pajak ketika mengikuti Tax Amnesty

Pencetus: Basuki Tjahja Purnama

Fun Fact: Selain Sandiaga, sebenarnya keluarga Jokowi yang memiliki usaha juga mengikuti program tax amnesty. Tax Amnesty sebenarnya memang sebuah program yang dikemukakan oleh Presiden Jokowi sebagai salah satu respon terhadap kasus Panama Papers. Memang menariknya, nama Sandiaga Uno merupakan salah satu nama yang muncul dalam kasus Panama Papers bersama beberapa tokoh politik dan pengusaha besar di Indonesia. Beberapa pengusaha memang dicurigai dalam kasus tersebut karena usaha tersebut merupakan usaha untuk menghindari pajak (tax evasion) dengan mendirikan special purpose vehicle (perusahaan boneka) di negara yang pengawasan pajaknya rendah.

Kondisi lapangan: Sebenarnya isu ini muncul ketika Sandiaga tiba-tiba menantang melakukan pembuktian harta terbalik. Ketika diberi tantangan tersebut, Ahok menjawab bahwa pembuktian harta secara terbalik itu merupakan hasil konferensi PBB dalam upaya melawan tindak korupsi. Ahok juga menilai wajar jika Sandiaga ikut menyuarakan semangat pembuktian harta terbalik itu, karena Sandiaga merupakan salah satu Ketua DPP partai politik. Selain itu, Ahok menilai tidak sebanding membandingkan keduanya karena Sandiaga merupakan seorang pengusaha, sedangkan Ahok adalah seorang pejabat. Hanya saja, yang menjadi perhatian adalah kalimat selanjutnya yaitu:

“Nah, kalau buat yang bukan pejabat, maka yang dilaporin itu pajaknya. Makanya untuk orang biasa yang tidak bisa membuktikan pajak yang dia bayar, dengan gaya hidupnya, di situlah pemerintah mengeluarkan yang namanya Tax Amnesty. Nah, dalam hal ini Pak Sandiaga ikut. Berarti itu juga membuktikan Pak Sandiaga dulu itu ngemplang pajak, enggak bayar pajak gitu loh ya,” kata Ahok.

 

  1. Alasan Pencalonan Parpol
  2. Ahok-Djarot

PDIP: Menurut Sekretaris PDIP, Hasto Krisyanto, Alasan di balik pemilihan Ahok sebagai calon gubernur dari PDIP didasari oleh alasan berikut ini:

Jokowi dan Ahok merupakan pasangan gubernur dan wakil gubernur dalam pemilihan pada 2012. “Sehingga mereka diharapkan konsisten melaksanakan program Jokowi-Ahok pada masa lalu,” ucap dia.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, pasangan gubernur Jakarta awalnya merupakan Jokowi-Ahok yang diusung oleh PDIP dan Gerindra.

PPP: Menurut ketua umum DPP PPP hasil muktamar Jakarta, Djan Faridz, mengatakan bahwa keputusan PPP mendukung Ahok-Djarot dilandasi untuk kemaslahatan umat dan toleransi dimana PPP berharap agar kepentingan-kepentingan umat Islam dapat terwadahi. Selain itu, PPP melihat bahwa tidak ada partai Islam lainnya yang mendukung Ahok-Djarot. Pertimbangan lainnya, Djan mengatakan bahwa kerja nyata calon Ahok-Djarot sedikit banyak sudah mengakomodasi kepentingan umat Islam. Antara lain program renovasi mesjid dan program mengumrohkan para pengurus mesjid di seluruh DKI Jakarta yang menurutnya tidak pernah dilakukan oleh gubernur sebelumnya:

“DPP PPP ingin memastikan program itu terus berlanjut dan ditambah dengan program pro umat lainnya,” katanya.”Jadi Ahok-Djarot harus didekati bukan dijauhi agar mereka mengerti dan memahami kebutuhan umat.”

Golkar: Menurut Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta Fayakhun Andriadi, kinerja Ahok sebagai gubernur pengganti Jokowi dinilai baik dan masih banyak masyarakat Jakarta yang menginginkan Ahok menjadi gubernur Jakarta kembali:

“Saudara Basuki Tjahaja Purnama, saya sudah berkeliling ke seluruh pelosok di Jakarta. Apa yang saya dengar dan saya ketahui yang disampaikan kepada saya adalah masyarakat DKI menghendaki Saudara Basuki mencalonkan lagi menjadi Gubernur DKI Jakarta,” kata Fayakhun

Hal ini juga diamini oleh kedua partai lainnya yaitu Hanura dan Nasdem yang terlebih dahulu mendukung Ahok sebagai calon gubernur.

  1. Anies – Sandiaga

Gerindra: Menurut ketua umum Gerindra, Prabowo Subianto, pemilihan Anies dan Sandiaga didasarkan karena aspirasi masyarakat yang terlihat menginginkan pemimpin baru untuk ibukota sehingga Gerindra dan PKS menjawab tuntutan rakyat tersebut dengan menghadirkan pemimpin yang santun dan manusiawi.

“Putra terbaik bangsa ini kami nilai mampu membawa DKI Jakarta ke arah yang lebih baik, lebih adil, dan sejahtera,” katanya

PKS: Menurut presiden PKS, Sohibul Iman, PKS mengusung Anies dan Sandiaga karena beberapa faktor salah satunya adalah masalah karakter dan kapabilitas yang sesuai. Hal itu diungkapkan sebagai berikut:

“Kami yakin keduanya punya integritas yang baik,” kata Sohibul di Rumah Prabowo, di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selain itu, “Saya tidak perlu ceritakan kapabilitas keduanya, karena keduanya adalah tokoh yang berhasil di bidang masing-masing,” ujar Sohibul.

  1. Pendapat Masyarakat (Opini)

Catatan: Bagian ini murni merupakan opini masyarakat yang diambil dari berbagai sumber di internet dan data yang disajikan apa adanya oleh penulis

Calon pertama (Ahok-Djarot)

Pro:

  1. Opini yang dilontarkan oleh salah satu warga asli Jakarta Utara, Ano Sutarno seperti yang dikutip oleh Tempo.co mengatakan bahwa Ahok mampu mengurangi pengangguran dan mampu mengurangi banjir di Jakarta:

“Orang-orang pengangguran diangkat semua jadi pekerja PPSU,” katanya

Selain itu dilansir oleh media yang sama dengan warga yang lainnya yaitu Tarman, warga Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading mengatakan bahwa Ahok mampu merangkul masyarakat, memprioritaskan warga Jakarta yang tidak mampu dengan diberi biaya sekolah. Namun, Tarman menambahkan kritik kepada Ahok yaitu beliau dinilai arogan, terlalu berani tapi bagus.

 

  1. Menurut Nurdin Taher seperti yang dikutip oleh Kompasiana.com mengatakan bahwa Ahok merupakan pemimpin yang anti-mainstream, gaya kepemimpinan yang anti kompromi, ingin membangun peradaban baru yang lebih memberi harapan untuk semua meskipun harus siap menerima resiko, dan pemimpin yang ingin membangun nilai baru yaitu kejujuran, spotivitas, kemajemukan dalam kebhinekaan, konsistensi, fairness, komitmen, tanggung jawab, dan keberanian menantang arus.

 

Kontra:

  1. Petisi yang ditulis oleh Rudy Razi (didukung oleh 398 orang) melalui Change.org mengatakan penolakan terhadap Ahok berdasarkan alasan sebagai berikut:
  2. Tidak menunjukan prestasi signifikan saat menjawab
  3. Temuan BPK yang mengindikasi penyalahgunaan wewenang dan penyimpangan APBD DKI Jakarta
  4. Perampasan hak, pengingkaran janji kampanye dan perilaku yang tidak menunjukkan etika, moral dan sopan santun.
  5. Ahok melukai hati umat Islam Jakarta (Ucapan di Pulau Seribu)

 

  1. Kepemimpinan Ahok dinilai kasar menurut hasil survei Media Survei Indonesia Nasional (Median) yang dikutip oleh RMOL.co:

Hasil survei Media Survei Indonesia Nasional (Median) menunjukkan 43,40 persen masyarakat Jakarta menilai sikap kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terlalu kasar.

 

  1. Menurut opini warga bernama Muchtar Effendi melalui Megapolitanpos.com, kinerja Ahok khususnya pada sosial ekonomi Jakarta dinilai buruk. Hal ini didasarkan pada 2 dasar yaitu: Janji kampanye Jokowi-Ahok 2012 dan Perda no 2/2012. Indikator kegagalannya dapat dilihat dari:
  2. Rakyat DKI nganggur kian banyak.
  3. Rakyat DKI miskin kian banyak.
  4. Kesenjangan golongan kaya dan miskin melebar.
  5. Pertumbuhan ekonomi DKI terus menurun.
  6. DKI gagal meraih penghargaan “Adipura”.
  7. Lalu lintas kota DKI paling “macet” se dunia.
  8. Jumlah titik “banjir” belum berkurang signifikan.
  9. Realisasi Anggaran Belanja rendah.
  10. Pembangunan Infrastruktur Terhenti.
  11. Kualitas Manajemen dan Perlindungan Asset Pemprov DKI rendah.

 

Calon kedua (Anies-Sandiaga)

Pro:

  1. Menurut hasil survey PolMark Research Center (PRC) pada bulan Oktober 2016 seperti yang dikutip RMOL.co, Anies merupakan pemimpin yang disukai masyarakat dengan hasil sebagai berikut:

“Anies Baswedan dikenal oleh 82,8% masyarakat Jakarta. Pasangan Sandiaga Uno itu disukai oleh 63,1% masyarakat.”

 

  1. Menurut opini Pandji Pragiwaksono, seorang rekan yang dekat dengan Anies Baswedan, mengatakan bahwa pribadi Anies Baswedan adalah pribadi yang ambisius, memiliki kerinduan untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik dan pandai berbicara

 

  1. Menurut opini beberapa orang seperti Muhyudi (Jakarta Barat), M. Sugianto (Jakarta Utara) seperti yang dikutip oleh Kompas.com mengatakan bahwa mereka berharap pada sosok Anies yang dinilai lebih pro-rakyat daripada Ahok khususnya kebijakan Ahok ketika menggusur pemukiman warga dan melarang transportasi tradisional (delman) di sekitar Monas

Kontra:

  1. Menurut pendapat Sahroha Lumbanraja seperti yang tercantum pada Kompasiana.com menjelaskan bahwa pasangan Anies-Sandi dan Agus-Sylvia merupakan pasangan yang cenderung inkonsisten dalam menjalankan prinsip, hanya mengandalkan kelemahan lawan (baca: Ahok), memberikan janji-janji manis yang belum tentu dapat ditepati

 

  1. Menurut pendapat dari website: ambiguistik.com mengatakan bahwa ada beberapa sikap negatif yang ditunjukan oleh pasangan Anies-Sandi yaitu:
  2. Enggan mengakui keberhasilan seseorang (ditinjau dari pernyataan Anies yang mengatakan sungai di Jakarta bersih karena Foke)
  3. Kekanakan (ditinjau dari reaksi Sandiaga ketika disindir Ahok dalam menjawab tantangan Sandiaga terkait pembuktian harta terbalik)

 

  1. Menurut opini dosen Universitas Indonesia, Ade Armando seperti yang dikutip oleh Kompas.com mengatakan bahwa Anies harus menghentikan pendukungnya yang terus menggunakan isu SARA kepada lawan politiknya (Ahok) dan bukan mendukung perbuatan pendukungnya dengan menyetujui bahwa Ahok perlu dilaporkan kepada polisi (kasus penistaan ayat Al-Maidah 51)

 

Dari hasil perbandingan di atas, tentu masih sangat sulit bagi kita untuk menentukan siapakah calon yang paling berpotensi untuk menduduki posisi DKI 1. Ada berbagai macam faktor lainnya yang mungkin muncul di sepanjang kampanye mendatang selain dari aspek-aspek yang telah dibahas sebelumnya. Tentu saja, kita sebagai warga negara Indonesia yang baik (khususnya warga DKI) perlu untuk menguji dan menilai bibit,bebet, bobot setiap calon. Akhir kata, mari merayakan pesta demokrasi ini dengan jujur dan cerdas!

 

 

 

 

References:

Ahok.org. (2016, Oktober 4). Visi, Misi, & Program Kerja Ahok-Djarot. Diambil kembali dari ahok.org: http://ahok.org/tentang-ahok/visi-misi-program-kerja-ahok-djarot/

Aziza, K. S. (2016, Juni 24). Ini Alasan Golkar Dukung Ahok pada Pilkada DKI 2017. Diambil kembali dari Kompas.com: http://megapolitan.kompas.com/read/2016/06/24/15180521/ini.alasan.golkar.dukung.ahok.pada.pilkada.dki.2017

Basit, A. A. (2014, Juni 19). Anies: Visi Misi Jokowi-JK Mudah Diterima karena Blusukan. Diambil kembali dari Metrotvnews.com: http://pemilu.metrotvnews.com/read/2014/06/19/254927/anies-visi-misi-jokowi-jk-mudah-diterima-karena-blusukan

Batu, S. L., Budiari, I., & Ramadhani, N. F. (2016, September 24). The profiles of the Jakarta election contenders: Ahok, Agus, Anies. Diambil kembali dari The Jakarta Post: http://www.thejakartapost.com/news/2016/09/24/the-profiles-of-the-jakarta-election-contenders-ahok-agus-anies.html

Biografi Sandiaga Uno – Profil Pengusaha Sukses Indonesia yang Pernah di PHK. (t.thn.). Diambil kembali dari Biografi Sukses Orang Dunia: http://biografi-orang-sukses-dunia.blogspot.co.id/2016/01/biografi-sandiaga-uno-profil-pengusaha.html

Carina, J. (2016, Juli 18). Ahok Anggap Risiko Politik jika Pendukungnya Kecewa Dia Tempuh Jalur Parpol. Diambil kembali dari Kompas.com: http://megapolitan.kompas.com/read/2016/07/18/11213841/ahok.anggap.risiko.politik.jika.pendukungnya.kecewa.dia.tempuh.jalur.parpol

Damayanti, R. (t.thn.). Profil dan Biografi Lengkap Basuki Tjahaja Purnama (AHOK). Diambil kembali dari Profilpedia: http://www.profilpedia.com/2014/08/profil-biografi-basuki-tjahaja-purnama.html

Ferri, O. (2013, Desember 19). Anies Baswedan: Saya Tidak Mau Pencitraan dengan Blusukan. Diambil kembali dari Liputan 6: http://news.liputan6.com/read/779735/anies-baswedan-saya-tak-mau-pencitraan-dengan-blusukan

Firmanto, D. (2016, Maret 10). Ahok di Mata Warga Jakarta: Arogan, tapi Bagus. Diambil kembali dari Tempo.co: https://m.tempo.co/read/news/2016/03/10/214752277/ahok-di-mata-warga-jakarta-arogan-tapi-bagus

Harahap, M. E. (2016, Mei 29). Kegagalan-Kegagalan Ahok Sebagai Gubernur DKI Jakarta. Diambil kembali dari Megapolitanpos.com: http://megapolitanpos.com/detail/1605/kegagalan-kegagalan-ahok-sebagai-gubernur-dki-jakarta

Joel. (t.thn.). Profil dan Biodata Anies Baswedan Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah. Diambil kembali dari Idjoel Media: https://www.idjoel.com/profil-dan-biodata-anies-baswedan-menteri-pendidikan-dasar-menengah-dan-kebudayaan/

Jordan, R. (2016, Oktober 3). Ahok: Sandiaga Ikut Tax Amnesty, Berarti Dulu Dia Ngemplang Pajak. Diambil kembali dari Detik.com: http://news.detik.com/berita/3311865/ahok-sandiaga-ikut-tax-amnesty-berarti-dulu-dia-ngemplang-pajak

Kami, I. M. (2016, Oktober 21). Adu Kuat Cagub DKI di 5 Survei. Diambil kembali dari Detik.com: http://news.detik.com/infografis/d-3326418/adu-kuat-cagub-dki-di-5-survei

Merdeka.com. (t.thn.). Djarot Saiful Hidayat. Diambil kembali dari Merdeka.com: http://profil.merdeka.com/indonesia/d/djarot-saiful-hidayat/

Poskotanews. (2016, Oktober 22). Ini Alasan PPP Kubu Djan Faridz Dukung Ahok-Djarot. Diambil kembali dari Poskotanews.com: http://poskotanews.com/2016/10/07/ini-alasan-ppp-kubu-djan-faridz-dukung-ahok-djarot/

Purba, D. O. (2016, September 21). “Kami Datang untuk Mengusung Bapak Anies, Ada 325 Titik yang Akan Digusur”. Diambil kembali dari Kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2016/09/21/14152911/.kami.datang.untuk.mengusung.bapak.anies.ada.325.titik.yang.akan.digusur.

Putri, A. W. (2016, September 23). Prabowo Ungkap Alasan Memilih Anies – Sandiaga. Diambil kembali dari tirto.id: https://tirto.id/prabowo-ungkap-alasan-memilih-anies–sandiaga-bMxT

Razi, R. (t.thn.). Tolak Pencalonan Ahok Sebagai Calon Gubernur Jakarta Periode 2017-2022. Diambil kembali dari Change.org: https://www.change.org/p/kpud-dki-jakarta-tolak-pencalonan-ahok-sebagai-cagub-dki-jakarta-periode-2017-2022

Saleh, Y. A. (2016, September 30). Sungai di Jakarta Kini Bersih, Anies: Itu Dirancang Gubernur Sebelumnya. Diambil kembali dari Detik: http://news.detik.com/berita/d-3310568/sungai-di-jakarta-kini-bersih-anies-itu-dirancang-oleh-pak-fauzi-bowo

Siregar, Z. (2016, Oktober 5). Eep: Lebih Banyak Warga yang Suka Anies Dibanding Basuki. Diambil kembali dari RMOL.co: http://politik.rmol.co/read/2016/10/05/263264/Eep:-Lebih-Banyak-Warga-yang-Suka-Anies-Dibanding-Basuki-

Syarrafah, M. (2016, Agustus 12). Risma-Ahok ‘Perang’ Soal Trotar. Diambil kembali dari Tempo.co: https://m.tempo.co/read/news/2016/08/12/058795277/risma-ahok-perang-soal-trotoar

Taher, N. (2016, Oktober 22). Ketakutan pada Ahok dan Konsep Pembangunan Ekonomi. Diambil kembali dari Kompasiana.com: http://www.kompasiana.com/emnoer_dm70/ketakutan-pada-ahok-dan-konsep-pembangunan-ekonomi_580b1b096d7a615b1da3467c

Toriq, A. (2016, Oktober 3). Ahok Sebut Sandiaga Ngemplang Pajak karena Ikut Tax Amnesty, PDIP Meluruskan. Diambil kembali dari Detik.com: http://news.detik.com/berita/3312188/ahok-sebut-sandiaga-ngemplang-pajak-karena-ikut-tax-amnesty-pdip-meluruskan

Trianto, S. (2016, Agustus 12). Membedah Wawancara Ahok Tentang Trotoar yang Berujung Kisruh. Diambil kembali dari Kompasiana: http://www.kompasiana.com/triantoseverus/membedah-wawancara-ahok-tentang-trotoar-yang-berujung-kisruh_57ad230f8223bd0d0a247bef

Victoria, W. (2016, Mei 13). Ahok Dinilai Kasar Sebagai Gubernur. Diambil kembali dari RMOL.co: http://politik.rmol.co/read/2016/05/13/246561/Ahok-Dinilai-Kasar-Sebagai-Gubernur-

Comments

comments